Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Kesalahan Penulisan InsyaaAllah Menurut Zakir Naik

Pertanyaan : Tersebar quot bahwa yg benar itu ditulis in shaa Allah dan bukan insyaa Allah. Krn penulisan yg kedua maknanya menciptakaan Allah. Mohon tanggapannya, krn kami kurang paham maksudnya. Krn jika sy perhatikan, pengucapannya sama.. Jawab : Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Jawab: Pada prinsipnya, tidak ada masalah serius dengan cara penulisan kalimat ini. Karena kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa arab. Ketika sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa arab berbeda, kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf latin. Yang menjadi kendala adalah tidak semua huruf arab terwakili trans-literasinya dalam bahasa lain. Sehingga trans-literasi yang ada, sifatnya hanya pendekatan. Yang penting, cara pengucapannya benar. Huruf syin [ش] sebagian menulisnya dengan ‘sy’ dan sebagian menulisnya dengan ‘sh’. Sel...

Tulisan Insya Allah yang Benar

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dalam bahasa arab, kata “insyaa Allah” ditulis dengan إِنْ شَاءَ اللَّهُ Yang artinya, ‘jika Allah menghendaki’ Ada 3 kata dalam kalimat ini, a. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa arab disebut harfu syartin jazim (huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi jazm) b. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia fiil madhi (kata kerja bentuk lampau), sebagai fiil syarat (kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum. c. Kata [اللَّهُ], sebagai subjek dari fiil syart. Memahami susunan di atas, berarti kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] adalah kalimat syarat, yang di sana membutuhkan jawab syarat. Namun di sana, jawab syaratnya tidak disebutkan, karena disesuaikan dengan konteks kalimat. Sebagai contoh, jika konteks pembicaraan anda adalah berangkat ke kota Jogja, maka kalimat lengkapnya adalah: ’jika Allah menghendaki maka saya akan berangkat ke jogja.’ Kalimat ’maka saya akan berangkat ke jogja’ merupak...

Mengapa Tidak Mengikuti Imam Ghazali dan Abdul Qadir Jaelani - Abu Yahya...

Tanya Jawab: Memotong Jenggot, Dosa Kecil Atau Dosa Besar? -Syaikh Utsma...

Tanya Jawab: Bolehkah Melaknat Orang Kafir? - Syaikh Dr. Utsman Al Khumais

Mutiara Hikmah: Inilah Senjata Paling Ampuh Setan - Ustadz Ahmad Zainudd...

Mutiara Hikmah: Inilah Senjata Paling Ampuh Setan - Ustadz Ahmad Zainudd...

Mutiara Hikmah: Penyesalan Yang Sia-sia - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Mutiara Hikmah: Sebelum Terlambat - Ustadz Abuz Zubair, Lc.

Mutiara Hikmah: Sebelum Terlambat - Ustadz Abuz Zubair, Lc.

Mutiara Hikmah: Selagi Ada Kesempatan - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Hukum Makan dengan Tangan Kiri

Surah abasa - Ust Abdul Qodir (ampe Nangis ana)

Q.S Yunus : 1--10 (Ust. Basuki) Merdu Banget

Peringatan Hari Ibu bagi Muslim

Apakah boleh umat Islam turut memperingati hari ibu? Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari diang`gap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Di Indonesia hari Ibu dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbakti pada Ibu Lebih Utama Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ » “ Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku...

Jika Non Muslim Sedekah, Apa Dapat Pahala?

Jika ada non-muslim beri sedekah, apa akan mendapat pahala dan balasan akhirat? Coba renungkan dua hadits berikut … Dari Jabir  radhiyallahu ‘anhu , dia berkata, دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ حَائِطًا فَقَالَ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَ مُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ فَقَالَتْ بَلْ مُسْلِمٌ قَالَ فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ “Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah memasuki kebun Ummu Ma’bad, kemudian beliau bersabda, “Wahai Ummu Ma’bad, siapakah yang menanam kurma ini, seorang muslim atau seorang kafir?” Ummu Ma’bad berkata, “Seorang muslim.” Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “ Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, hewan atau burung kecuali hal itu merupakan shadaqah untuknya sampai hari kiamat .” (HR. Muslim, no. 1552) Pada riwayat Musl...

Khutbah Jumat: 5 Prinsip Akidah Muslim pada Non-Muslim

Ada prinsip penting seorang muslim yang merupakan bagian dari akidahnya, yang harus ia yakini pada non-muslim. Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahk...