Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 23, 2016

Kesalahan Penulisan InsyaaAllah Menurut Zakir Naik

Pertanyaan : Tersebar quot bahwa yg benar itu ditulis in shaa Allah dan bukan insyaa Allah. Krn penulisan yg kedua maknanya menciptakaan Allah. Mohon tanggapannya, krn kami kurang paham maksudnya. Krn jika sy perhatikan, pengucapannya sama.. Jawab : Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Jawab: Pada prinsipnya, tidak ada masalah serius dengan cara penulisan kalimat ini. Karena kalimat insyaa Allah berasal dari bahasa arab. Ketika sering digunakan oleh masyarakat tanpa diterjemahkan, kalimat ini menjadi bagian dari bahasa kita. Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa arab berbeda, kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf latin. Yang menjadi kendala adalah tidak semua huruf arab terwakili trans-literasinya dalam bahasa lain. Sehingga trans-literasi yang ada, sifatnya hanya pendekatan. Yang penting, cara pengucapannya benar. Huruf syin [ش] sebagian menulisnya dengan ‘sy’ dan sebagian menulisnya dengan ‘sh’. Sel...

Tulisan Insya Allah yang Benar

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dalam bahasa arab, kata “insyaa Allah” ditulis dengan إِنْ شَاءَ اللَّهُ Yang artinya, ‘jika Allah menghendaki’ Ada 3 kata dalam kalimat ini, a. Kata [إِنْ], artinya jika. Dalam bahasa arab disebut harfu syartin jazim (huruf syarat yang menyebabkan kata kerja syarat menjadi jazm) b. Kata [شَاءَ], artinya menghendaki. Dia fiil madhi (kata kerja bentuk lampau), sebagai fiil syarat (kata kerja syarat) yang berkedudukan majzum. c. Kata [اللَّهُ], sebagai subjek dari fiil syart. Memahami susunan di atas, berarti kalimat [إِنْ شَاءَ اللَّهُ] adalah kalimat syarat, yang di sana membutuhkan jawab syarat. Namun di sana, jawab syaratnya tidak disebutkan, karena disesuaikan dengan konteks kalimat. Sebagai contoh, jika konteks pembicaraan anda adalah berangkat ke kota Jogja, maka kalimat lengkapnya adalah: ’jika Allah menghendaki maka saya akan berangkat ke jogja.’ Kalimat ’maka saya akan berangkat ke jogja’ merupak...

Mengapa Tidak Mengikuti Imam Ghazali dan Abdul Qadir Jaelani - Abu Yahya...

Tanya Jawab: Memotong Jenggot, Dosa Kecil Atau Dosa Besar? -Syaikh Utsma...

Tanya Jawab: Bolehkah Melaknat Orang Kafir? - Syaikh Dr. Utsman Al Khumais

Mutiara Hikmah: Inilah Senjata Paling Ampuh Setan - Ustadz Ahmad Zainudd...

Mutiara Hikmah: Inilah Senjata Paling Ampuh Setan - Ustadz Ahmad Zainudd...

Mutiara Hikmah: Penyesalan Yang Sia-sia - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Mutiara Hikmah: Sebelum Terlambat - Ustadz Abuz Zubair, Lc.

Mutiara Hikmah: Sebelum Terlambat - Ustadz Abuz Zubair, Lc.

Mutiara Hikmah: Selagi Ada Kesempatan - Ustadz Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Hukum Makan dengan Tangan Kiri

Surah abasa - Ust Abdul Qodir (ampe Nangis ana)

Q.S Yunus : 1--10 (Ust. Basuki) Merdu Banget