Saudariku, terkadang aku merenung, mengapa akhir-akhir
ini banyak sekali kasus yang menjadikan wanita sebagai korbannya, entah itu
perkosaan, pelecehan seksual, perzinaan, dan lain sebagainya yang… ah, miris!
Sangat-sangat …
Saudariku, terkadang aku merenung, mengapa akhir-akhir ini banyak sekali
kasus yang menjadikan wanita sebagai korbannya, entah itu perkosaan, pelecehan
seksual, perzinaan, dan lain sebagainya yang… ah, miris! Sangat-sangat
melecehkan dan merendahkan kehormatan wanita. Apakah memang laki-laki zaman
sekarang sudah sedemikian bejat dan kurang ajar sehingga menghinakan wanita?
Apakah mereka hanya berpikiran bahwa wanita adalah tempat pelampiasan nafsu
mereka semata? Apakah mereka mengira wanita itu bagaikan bunga di tepi jalan
yang bisa dipetik setiap saat kemudian dicampakkan begitu saja? Atau mereka
pikir wanita ibarat rokok yang setelah sarinya habis mereka hisap lantas
puntungnya mereka buang dan diinjak-injak dengan kaki mereka? Huh, biadab
sekali laki-laki itu!
Tunggu dulu, jangan gegabah menuduh mereka wahai Saudariku.. Pernahkah
engkau berpikir dan merenung dalam-dalam mengapa pria-pria itu berbuat
demikian? Apakah hal itu murni kesalahan mereka atau jangan-jangan ada faktor
lainnya yang mendorong mereka melakukan pelecehan terhadap kita? Renungilah
sejenak…
Nah, sudahkah kau temukan jawabannya? Jika belum, baiklah mari kita cari
jawabannya. Aku yakin sebagian besar wanita menyukai bunga-bunga mekar yang
cantik, mewangi, dan beraneka warna. Lihatlah bebungaan yang indah itu, dia
menarik perhatian kumbang untuk menghisap madunya, bahkan menarik perhatian
manusia untuk memetiknya. Ketika bunga itu mekar maka tampaklah kecantikannya
oleh sang kumbang. Sang kumbang pun tertarik untuk mendekatinya dan merampas
madu bunga, lantas setelah puas, sang kumbang akan meninggalkan bunga itu
begitu saja. Dan bunga itupun akhirnya layu dengan cepat… Habis manis, sepah
dibuang. Lain halnya dengan bunga cantik yang terlindungi dari pandangan
kumbang. Bunga itu tidak akan terjamah oleh kumbang-kumbang yang tidak
bertanggung jawab.
Ya, wanita ibarat bunga yang cantik itu. Jika seorang wanita menampakkan
kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya, sungguh, kebanyakan dari para lelaki
akan terpesona karenanya. Hawa nafsunya akan menyuruhnya untuk menikmati sang
wanita cantik itu, entah itu dengan memandangi wajah dan tubuh sang wanita
terus-menerus, entah dengan menyentuhnya, atau… entah dengan tindakan bejat
lainnya. Hanya lelaki hidung belang dan kurang imannya yang akan memuaskan hawa
nafsunya dengan hal yang haram tersebut. Duhai Saudariku, apakah engkau mau
menjadi korban para lelaki itu? Tentunya sebagai wanita yang berpikiran sehat,
jelas kita tidak akan sudi, benar kan?
Lalu mengapa engkau pamerkan bagian tubuhmu? Keuntungan apakah yang engkau
dapatkan dari membuka auratmu? Kebebasan? Bahagia karena dipuji orang sebagai
wanita seksi? Biar laris jodoh? Gampang dapat pekerjaan? Dapat tawaran jadi
model atau artis? Atau seribu satu kenikmatan hidup lainnya? Jika engkau
berpikir bahwa engkau akan mendapatkan keuntungan yang besar dari membuka
auratmu maka engkau telah salah besar. Kesenangan hidup yang kau peroleh itu
hanyalah kesenangan semu. Sungguh, tidaklah akan engkau dapati dari membuka
auratmu kecuali kerugian yang besar. Dengan membuka aurat maka turunlah harga
diri dan kehormatanmu sebagai muslimah. Hilanglah kemuliaan dan rasa malumu
seiring dengan tersingkapnya auratmu. Dan engkau pun rentan menjadi korban
pelampiasan nafsu para pria hidung belang dan mata keranjang.. Lalu ke manakah
perginya rasa aman itu…?
Hijab, perintah Allah untuk wanita muslimah
Duhai Saudariku, fitrah seorang manusia pastilah malu untuk memperlihatkan
auratnya dan malu jika orang lain memandang auratnya. Terlebih lagi bagi
seorang muslimah yang komitmen terhadap ajaran agamanya. Seorang mukminah tentu
akan melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala, termasuk di antaranya adalah perintah untuk berhijab. Ketahuilah,
tidaklah Allah memerintahkan sesuatu perkara kepada hamba-Nya kecuali pasti
perkara itu bermanfaat bagi hamba-Nya. Demikian juga dengan perintah berhijab
bagi muslimah, karena hijab sungguh sangat besar manfaatnya bagi para wanita.
Apa itu hijab? Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa hijab adalah
seorang wanita menutupi seluruh tubuhnya dari laki-laki yang bukan mahramnya,
sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ
بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا
لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ
أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ
“..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,
atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka…” (QS. An Nur: 31)
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ
ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab/tabir.Cara yang
demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
Dan yang dimaksud dengan hijab adalah apa-apa yang dapat menutupi wanita,
baik itu dari tembok, pintu, atau pakaian. Sedangkan lafadz ayat tersebut
meskipun ditujukan untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
akan tetapi hukumnya adalah umum untuk semua wanita mukminah.
Hijab yang wajib atas seorang wanita jika berada di dalam rumahnya adalah
dia terhalangi di belakang tembok atau tempat tertutup. Adapun jika dia
berhadapan dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahramnya) baik
di dalam maupun di luar rumah maka hijabnya adalah dengan memakai pakaian
syar’i, yaitu ‘aba’ah (jilbab) dan khimar (kerudung)
yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasan luarnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya..” (QS. An
Nur: 31)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن
يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya
mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Ahzab: 59)
Berdasarkan dua ayat di atas, hijab seorang wanita jika keluar rumah adalah
mengenakan khimar kemudian mengenakan jilbab di atas khimarnya, bukan khimar
saja atau jilbab saja, sebagaimana banyak dilalaikan oleh mayoritas muslimah
sekarang ini.
Komentar
Posting Komentar